Setiap manusia yang normal
pasti akan ada masanya untuk merasakan jatuh cinta. Karena gue normal, gue udah
pernah melalui masa-masa jatuh cinta. Dari mulai jatuh cinta sama cewek
berjilbab, berambut panjang, berambut pendek, sampai yang botak licin. Tapi gue
yakin jatuh cinta-jatuh cinta yang gue alami ini bukan jatuh cinta yang serius.
Inilah jatuh cinta yang sering dialami ABG, yap betul.... cinta monyet.
Cinta monyet bukan
berarti gue cinta sama monyet. Kalau masih ada yang belum ngerti apa itu cinta
monyet, cari di wikipedia sekarang
juga. Gue sebagai cowok normal, masa-masa ABG gue diwarnai dengan nuansa cinta.
Gue termasuk cowok yang cepat jatuh cinta, cepat bosan dengan orang yang gue
cinta, cepat putus cinta, dan cepat jatuh cinta lagi.
Gue pernah jatuh cinta
sama cewek yang menjadi teman sekelas gue waktu itu. Lebih tepatnya gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Cewek ini bernama Naya. Cewek
cantik berambut panjang, cowok mana yang nggak tertarik ketika pertama kali
melihat dia? Mungkin hanya homo dan sejenisnya yang tidak tertarik. Disitu gue
yakin, dalam satu sekolah, bukan cuma gue yang tertarik sama Naya. Dan
disinilah persaingan dimulai.
Di kelas, gue jadi sering merhatiin
dia. Sesekali gue mencuri pandangan. Saat dia asik menulis, gue liatin dia.
Saat dia membaca buku, gue liatin dia. Lalu saat dia melihat kearah gue, gue
langsung buru-buru buang muka sampai salah satu bola mata gue copot entah
kemana. Ya, jatuh cinta diam-diam itu emang nggak enak.
Gue beruntung bisa jatuh cinta sama
cewek yang satu kelas sama gue. Karena frekuensi gue untuk bertemu dengan si
doi pasti lebih banyak. Gue sebagai cowok lugu nan cupu nggak tau harus berbuat
apa supaya bikin Naya juga suka sama gue.
Pernah di jam istirahat dia menghampiri gue,
Dan dia bilang “Fajri, kok diem aja? Nggak jajan? Temenin Naya jajan
yuk.”
Gue speechless, gue seneng setengah mampus, saking senengnya gue
langsung pingsan dengan keadaan celana basah agak bau pesing. Dan akhirnya pun
kesempatan pertama buat ngedeketin Naya terbuang sia-sia.
Senin berganti selasa, selasa
berganti rabu, sampai seterusnya gue belum pernah bisa ngedeketin orang yang
gue kagumi. Sampai akhirnya gue tau, dia jadian sama cowok keren kelas sebelah.
Karena gue belum terlalu mengerti cinta, hati gue sedikitpun tidak remuk
melihat Naya dengan cowok lain. Dan pada akhirnya gue cuma bisa jatuh cinta diam-diam.
Berbeda dengan teman sebangku
sekaligus temang seperjuangan gue, Dika. Dia lebih ngerti soal cinta. Dia bisa
dengan mudah mengungkapkan perasaan ke cewek yang dia suka. Disaat gue lagi jatuh cinta diam-diam dengan Naya, dia
udah jadian dengan cewek yang menurut gue biasa-biasa aja sih di kelas.
Mungkin banyak yang beranggapan kalau
jatuh cinta dengan teman sekelas itu enak, karena sering bertemu satu sama
lain. Selain itu juga lebih mudah buat menarik perhatian si cewek. Tapi, tapi,
tapi, tapi, tapi terlalu sulit untuk pemula seperti gue.
Karena gue cuma jatuh cinta diam-diam, maka gue cuma jatuh untuk cinta.
Gue jatuh cinta sama seseorang, dan
harus merelakan dia bahagia bersama cowok lain. Ya... mungkin ini yang
dinamakan jatuh untuk cinta.
Karena suatu hal
mutlak. Dibalik kesedihan dan kesusahan pasti ada kebahagiaan. Tertawalah jika
kamu masih bisa tertawa. Dan berhati-hatilah tertawa berlebihan bisa
menyebabkan kesedihan. Begitu juga dengan sedih berlebihan pasti akan
menimbulkan tawa setelah sedih. Karena gue percaya, setelah panas pasti ada
hujan, dan setelah hujan masih ada pelangi.
No comments:
Post a Comment